Makna
Musibah
Kali saya
akan memposting tentang makna musibah. Kenapa, karena setiap manusia pasti akan
mengalami yang namanya musibah. Tidak ada manusia yang bebas dari musibah. Oleh
karena itu, maka kita perlu pengetahuan yang baik mengenai konsepsi musibah.
Karena dengan pengetahuan baik (Islami) akan sangat membantu dalam menghadapi
musibah yang menimpa.
Musibah
menurut al-quran dan hadits mempunyai paling sedikitnya 3 dimensi.
Pertama, sebagai hukum Allah atas pembangkangan yang dilakukan
manusia pada aturan yang telah ditetapkan-Nya (hukum sebab akibat). Dalil mengenai hal ini salah satunya terdapat
didalam al-Quran Surat An-Nisaa’ : 79
79. apa saja nikmat yang kamu
peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka dari
(kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap
manusia. dan cukuplah Allah menjadi saksi.
Kedua, sebagai penghapusan dosa sehingga dengan demikian di
akhirat nanti ada dosa yang tidak diperhitungkan lagi karena hukumannya sudah
ditunaikan Allah di dunia (sebagai
penebus dosa). Dalil mengenai hal ini salah satunya terdapat didalam Hadits
yang artinya :
“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka
didahulukan baginya hukuman di dunia (berupa musibah dan kesusahan agar
terhapus dosa-dosanya) dan apabila Dia menghendaki keburukan pada hamba-Nya,
maka Dia akan menahan darinya (membiarkannya) dengan dosa-dosaya sehingga
(dosa-dosa tersebut) dibalas pada hari kiamat” (HR. Turmudzi)
Ketiga, sebagai ujian untuk kenaikan derajat di mata Allah (sebagaimana yang dialami rasulullah). Dalil
mengenai hal ini salah satunya terdapat didalam Hadits yang artinya :
“Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang-orang saleh
akan diperberat (musibah) atas mereka, dan tidaklah seorang mukmin tertimpa
suatu musibah, seperti tertusuk duri atau lebih ringan dari itu, kecuali akan
dihapuskan dosa-dosanya dan akan ditingkatkan derajatnya.” (HR. Ahmad, Ibnu
Hibban, al-Hakim dan Baihaqi)
Pada
hakikatnya, semua ketentuan yang ditetapkan Allah kepada kita, termasuk
musibah, tidak ada yang buruk. Masalahnya adalah mampu atau tidak kita
memanfaatkannya. Orang yang mampu memanfaatkan ketentuan yang ditetapkan Allah
baginya, akan beruntung; sedangkan sebaliknya, akan merugi. Hal ini dapat
diibaratkan dengan permisalan berikut : “Apalah artinya pena emas bagi orang
yang tidak bisa menulis; atau apalah gunanya buku bermutu diberikan kepada
orang yang tidak bisa membaca. Penas emas dan buku bermutu itu, niscaya baginya
hanyalah merupakan beban saja, karena ia harus menyimpan dan merawatnya.”
Seorang ahli
hikmah berkata, “Ketika Allah memberimu nikmat, maka akan terasa olehmu
kebaikan-kebaikan-Nya. Dan ketika Allah memberimu musibah, sebenarnya Ia ingin
memberimu hikmah”. Menurutnya, demikianlah cara Allah mencurahkan kasih
sayang-Nya kepada manusia, yaitu makhluk yang diciptakannya paling sempurna
dibandingkan dengan makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang lain.
0 komentar:
Posting Komentar