Diberdayakan oleh Blogger.

Doa




Sesungguhnya bukan kepada gambar Kabah di sajadah, kita bersujud. Tetapi kepada Allah semata. Pun bukan pada nabi dan wali, apalagi pada batu-batu makam mereka, kita berdoa. Melainkan kepada Allah. Tidak pula bergantung pada bilangan biji-biji tasbih yang diputar, kita memujiNya. Namun berdasarkan pada kerelaan kita mengucap segala puji itu. Jika pun ada yang kita harap, yang selayaknya diharapkan adalah keridhaan Allah menerima sujud, doa, dan pujian kita yang rendah ini.

Alangkah tahu diri jika kita datang sendiri menghadap Sang Baginda Raja Segala Raja. Duduk bersimpuh, berurai airmata, menunduk penuh takut sekaligus penuh asa, mengaku berdosa, menyesalinya, dan mohon ampunan. Sebagaimana diajarkan dalam Q.S. Al A'raf: 55,"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas," sebaiknya kita menghadap dengan tenang dan tidak berisik. Pun tidak gegabah.

Manusiawi jika berharap ada sanak saudara, kerabat, kawan, sahabat, dan atau siapalah yang kita kenal bersedia untuk mendoakan kita. Tak dapat dipungkiri juga betapa mulia jika kita mendoakan mereka secara diam-diam, tak perlu diumumkan, sehingga kita selamat dari takabur, ujub, riya, dan entah apa namanya. Ingatlah pesan KH Mustafa Bisri, kiai sepuh dari Rembang, Jawa Tengah. "Cara mengabadikan kebaikan adalah dengan melupakannya," tuturnya.

Lagipula, jika tanpa izinNya, tiadalah daya dan upaya untuk melakukan kebajikan. Doa terkabul juga bukan dikarenakan riwayat kebaikan siapa yang berdoa, bukan pula waktu dan tempatnya yang mustajab, namun semata karena Allah berkehendak demikian. Dalam Q.S. Ar Ra'du: 14 jelas termaktub," Hanya bagi Allah-lah hak mengabulkan doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu pun bagi mereka." Allah penentu segala doa.
Perbincangan tentang apakah doa dari orang yang masih hidup bagi orang yang telah mati akan sampai kepada yang dituju, masih hangat didiskusikan. Beda dimensi, atau lebih tepatnya: beda dunia, dianggap sebagai penghalang terbesar bagi doa. Mereka beranggapan frekuensi doa tidak akan tertangkap sinyal keilahian, seolah Allah tidak Maha Mendengar. Padahal, Allah adalah Penguasa dan Pengatur Semesta Raya, tak terbatas ruang dan waktu. Allah juga mendengar setiap doa.

Bahkan, secara tegas, Allah dalam Q.S. Al Baqarah:186 mengatakan," Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila memohon kepadaKu." Inilah masalah mendasar dari doa yang tidak terkabul. Pertama, kita tidak merasa dekat pada Allah, bahkan menjauh, atau mendekat jika dan hanya jika terjepit kenyataan pahit dan ingin menjerit. Kedua, kita meminta tidak langsung pada Allah.

Kita suka mengurus sesuatu melalui perantara. Sampai-sampai untuk urusan bersedekah pun kita meminta fatwa dari ulama tentang apakah pengemis layak diberi duit. Sampai-sampai kita beranggapan sedekah via organisasi sedekah adalah lebih baik. Jasa penitipan doa berbayar muncul  mewarnai fenomena menarik umat terbaik ini. Dengan mentransferkan sejumlah uang dan mengirimkan via surat elektronik apa-apa saja doa-doa yang dititipkan, kita bisa berdoa dari jauh. Seolah-olah Allah itu berjarak.
Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat. Desir jantung dan kata hati saja tak luput dari pendengaranNya, serta bersitan pikiran dan senoktah rasa sombong di hati saja tampak jelas bagiNya, apalagi dalam urusan menerima doa dari hamba-hamba, tentu saja Dia tidak membutuhkan perantara. Bisikkan lirih ke lantai ketika kau bersujud, pun cukup. Doa itu akan sampai kepadaNya. Tiada penghalang bagiNya dari siapa pun. Tuhan juga tak perlu uang dari kita. []


Candra Malik, Penulis Buku "Makrifat Cinta" dan "Menyambut Kematian".

0 komentar:

Posting Komentar