Semalem baca
blognya mas Allit jadi ketawa-ketawa sendiri, kyak orang baru gila gitu deh. Buat
temen-temen coba deh baca postingannya dibawah ini. Fersi lengkapnya klik
disini.
Dalam segala bidang, apapun yang
berlebihan tentunya nggak baik. Bahkan misal itu kegiatan positif sekalipun.
Misal, berlebihan makan, bisa bikin obesitas. Berlebihan olahraga, bisa bikin
cidera. Berlebihan ibadah, bisa bikin lupa urusan dunia. Nah, dalam urusan
cinta juga gitu. Saat rasa sayang terlalu berlebihan, pastinya akan memberi
efek yang tidak menyenangkan. Orang yang terlalu sayang kepada pasangan akan
cenderung menjadi:
1. Over protektif
Karena dorongan rasa sayang,
akhirnya bikin orang itu akan mencoba menjauhkan orang yang disayang dari
hal-hal yang dianggap bisa membahayakannya, atau membahayakan hubungan mereka.
Mulai dari hal yang wajar, misal dia melarang pacar main malem. Sampai ke hal
yang tidak wajar, misal dia melarang pacar bergaul sama teman lawan jenis.
Over protektif merupakan sifat yang
tidak sehat dalam pacaran. Si pasangan bisa merasa hidupnya terlalu dibatasi.
Mungkin memang benar, tujuan si over protektif itu menjauhkan pacar dari
hal-hal yang merugikan. Tapi mungkin benar juga, tujuan si over protektif ini
adalah mencoba mendominasi si pacar secara berlebihan untuk muasin egonya.
Kasian si pacar, dalam hidup kan
kebutuhan untuk berkomunikasi nggak cuma sama pasangan doang. Dia juga pengin
mengobrol dengan teman-temannya, dia juga pengin seru-seruan dengan dunianya.
Mentang-mentang pacaran, bukan berarti dunia berasa milik berdua. Kita tetap
butuh orang-orang di luar lingkup hubungan. Biar apa? Biar kalo lagi berantem
sama pasangan nanti, kita nggak sendirian.
2. Over posesif
Selain terlalu 'melindungi'
pasangan, terlalu sayang juga bisa bikin orang menjadi over posesif (merasa
terlalu memiliki). Orang yang over posesif biasanya akan terlalu 'menempel'
ke pasangan. Dia akan menunjukkan kepada dunia bahwa si pasangan adalah
miliknya. Biasanya, dia juga bakal maksa pasangan buat mengakui ke publik bahwa
dia sudah ada yang punya. Misal:
"Sayang.. Tolong ganti profile
picture semua akun media sosial yang kamu punya dong."
"Pake foto apa sayang?"
"Pake foto kita berdua sedang
ciuman. Biar nggak ada yang genitin kamu di internet."
"Sayang.. Tolong gilas saja aku
pake becak."
Ya, orang over posesif bisa membuat
keputusan-keputusan yang cenderung gila. Bahkan, over posesif juga bisa membuat
seseorang menjadi gampang cemburu. Misal:
"Sayang, pinjem hape
kamu!"
"Buat apa sayang?"
"Aku mau ngomelin cowok yang
nge-Love moment kamu di Path! Kurang ajar, udah tau pacar orang masih di-Love
segala!"
"Sayang, infus aku pake Wipol,
plis.."
Hal-hal semacam itu akan membuat
pasangan merasa malu kepada orang-orang yang melihat kelakuan pasangannya. Kalo
terus terjadi, si pasangan bakal kehilangan teman karena teman-temannya akan
menjauh, takut diomelin pacarnya. Sedangkan bagi pasangan yang diposesifin
sendiri juga bakal ngerasa nggak dipercayai. Lalu buat apa punya hubungan kalo
nggak punya kepercayaan?
3. Drama
Terlalu sayang biasanya terjadi pada
pasangan yang masih seumur jagung pacarannya. Di mana rasa cintanya masih
menggebu-gebu. Mereka yang baru dimabuk cinta, biasanya juga berharap untuk
menjalani hubungan seindah cerita cinta yang mereka tonton di film-film atau
TV. Iya, mereka akan cenderung menjalani hubungan penuh drama. Misal, obrolan
sehari-hari bertaburan gombal.
"Sayang.. Meski ada badai topan
di bumi ini, aku akan selalu bersamamu hingga mati."
Yah, walaupun pada prakteknya bisa
jadi gini:
"Sayang.. ke sini dong.. Aku
mau martabak!"
"Ntar ya sayang.. Masih gerimis
nih."
Selain bertaburan gombal, orang
drama kalo ngambek juga menjijikan. Biasanya mereka berharap seluruh dunia tau
tentang masalah yang sedang mereka hadapi. Mereka akan bertengkar di tempat
umum, baik itu di dunia nyata, maupun perang di media sosial. Mungkin menjadi
pusat perhatian saat bertengkar itu membuat mereka merasa seperti tokoh utama
di drama Korea. Tapi faktanya, justru orang-orang kesal karena dipaksa
melihat/mendengar kata-kata kotor yang saling mereka lemparkan.
Atau kadang mereka berbuat sesuatu
yang ekstrim dramanya saat bertengkar, misal upload poto tangan yang mau
disilet ke media sosial dengan caption, "Pokoknya kalo aku mati, salahin
dia!"
Sedangkan pasangannya juga upload
poto selfie di rel kereta dengan caption, "Pokoknya ini semua salah
dia!"
Kalo gue jadi teman orang semacam
ini di Media Sosial sih, gue bakal makin kompor-komporin satu sama lain, terus
gue tonton lanjutannya sambil ngemil paha sapi hidup-hidup.